بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Aku datang dengan kata sebab dia menyuruhku datang. Tetapi aku belum mampu menjawab ketika ditanya untuk apa aku datang"
--- & ---
~Aku sedang menjemput puisi yang masih setia menungguku di sana. Bersabarlah sayang!~

Puisi Penantianku

Ditulis oleh Zuwaily


Bismillah... berikut Puisi "Penantianku":

Aku menantimu di sini. Di tengah padang kejujuran yang tak pernah kurelakan untuk pergi dari kehidupan. Aku masih menanti.... Seolah kau akan datang pada saat meteor-meteor cinta jatuh di hadapan mayat yang tak berputih. Aku tetap diam dan tak beranjak. Langit-langit itu adalah buktinya. Di sana, di atas kepalaku yang terhantam matahari. Bukankah nanti kau akan melihat betapa perih tubuh ini?

Adinda..., entah apa yang akan kau lakukan saat menemukan jasad di tengah lautan yang tiba-tiba menghampiri pesakitan. Sudikah kau memeluk bulatan senja yang jauh di sana? Sudikah kau membuyarkan lamunan ikan-ikan di dalam laut karena inginkan kail dari para nelayan yang melabuh ke pulau sebrang? Sudikah kau mendekat? Mengatakan sebuah guyonan jenaka 'tuk menghibur dedaunan yang melayang di atas air laut? Lihatlah..., bukankah alam membentak daku yang tertegun?

Petir menggelegar, awan hitam menyembul lalu buatkan ketakutan tak berarti, bagiku

Syahdan, aku terpaku dan membayangkan wajah-wajah

"Adinda..., aku masih di sini. Di pekarangan hati
Adinda..., aku masih mengunggumu. Di batas cerita-cerita yang t'lah kusulam sesaat kutakutkan kau menjauh
Adinda...
Jangan ciptakan kejujuran yang kau anggap kebohongan"

Lalu kuhentakkan kakiku bukan untuk berlari, tapi terdiam sesaat ketika memandang langit yang terperosok tepat di atasku.

Meteor itu pun jatuh dan kau tak pernah sudi untuk mendekap dalam pelukan penantianku
Bersemi ketakutan seperti apa yang tidak pernah kuharapkan

#Sesaat kemudian, hujan pun turun menembus atap kamarku#

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar