بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Aku datang dengan kata sebab dia menyuruhku datang. Tetapi aku belum mampu menjawab ketika ditanya untuk apa aku datang"
--- & ---
~Aku sedang menjemput puisi yang masih setia menungguku di sana. Bersabarlah sayang!~

Puisi Anak Itu

Ditulis oleh Zuwaily


Bismillah... berikut Puisi "Anak Itu":

Sengaja aku titipkan anak ini ke rumah sebelah. Ia belum cukup umur tuk mengetahui pertengkaran kita. Sengaja aku biarkan ia di sana, biar beringas, biar menjadi macan yang meraung-raung tuk dihidangkan sebuah kebebasan. Sengaja dan biarlah ia menangis jika memang tak kuasa menanggung derita dari batin yang terpenjara jera. Sengaja dan biarkan.

Pun saat kau menangis dan mengiba kepadaku tuk menyusulnya ke sana. Aku tak menanggapi, diam sembari menikmati aroma-aroma kehidupan di depan, belakang, kanan, dan kiriku. Sengaja kubiarkan kau menangis, sengaja kutak tanggapi betapa memilukan air mata yang sedari malam turun karena saat itu t'lah kutitipkan sebuah janji.

Lama... dan waktu pun sudah melewati jejalanan yang tertutup dinding-dinding putih. Sejak itu, pun kau lupa satu tanda yang pernah kuhilangkan dari kehidupanmu. Anak itu. Sementara pertengkaran kita tak pernah usai walau sudah beberapa ekor yang membuntuti perjalanan bahtera ini. Dan haruskah aku jujur kepada dirimu? Haruskah kukatakan sesuatu yang dapat mengkondisikan tali-temali yang sudah kusut ini? Tetap saja..., aku hanya bisa merenung karena tak mungkin ucapkan sepatah kata pun tuk dapat melunakkan jari-jemari yang kaku.

Sesaat pun usai meski terasa lama perjalanan ini. Anak itu t'lah tumbuh menjadi nahkoda di sebuah kapal yang mewah. Anak itu t'lah keluar dari kurungan binatang yang harus kurelakan ia di sana meski hati berontak karena itu langkah kebiadaban dari sang ayah. Dan enyahlah harapan pertengkaran kita dulu. Kau pun tahu..., di sana tak nampak sebuah sketsa wajah yang mirip antara aku dan kau. Anak itu... tak merestui akar dari tulang rusukku yang t'lah kau ambil.

Tetapi waktulah yang menjawab, pertengkaran ini memang tak pernah usai karena anak itu t'lah menggandakan sejuta musuh untuk bahtera ini.

#Enyahlah ketelantaran yang menyesatkan sang anak... perjalanan puisi semoga bisa menjadi penghibur bagi mereka yang haus sebuah belaian kerinduan. Kasih-sayang#

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar