بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Aku datang dengan kata sebab dia menyuruhku datang. Tetapi aku belum mampu menjawab ketika ditanya untuk apa aku datang"
--- & ---
~Aku sedang menjemput puisi yang masih setia menungguku di sana. Bersabarlah sayang!~

Puisi Tiang Napas

Ditulis oleh Zuwaily


Bismillah... berikut Puisi "Tiang Napas":

segerombolan wajah mengetuk pintu
berkata salam, mereka bilang
: "selamat datang"

acapkali aku mendengkur, begitu
mengutarakan dengan bait-bait
tercecer, terbuyar...
berlaut-laut menggema pada sehelai kapas
tercoret, adanya
seketika ada tinta yang jatuh pada angka dan huruf
pun mereka berkata salam
: "selamat datang"

dan ketika guyon bertalu di warung remang-remang
pinggir kali
segerombolan wajah meniti langkah pelan-pelan
secangkir kopi jadi hidangan, segenap dingin merasuk
apatah ada pikir yang harus dipikirkan?

separuh waktu, gelisah membasuh kata
mengecap daun-daun yang tersisa di ruang kelas
tak ingin lekas koyak, begitu wajah-wajah berkata tanya
: "haruskah kutinggalkan kata selamat datang?"

padahal langit tak sudi tuangkan timah
padahal bumi tak layak kuburkan malaikat
di sana, sebelum matahari jatuh bangun mencari bulan
sederet angka tak perlu jadikan soalan
bukankah segerombolan wajah memangku kursi-kursi di awal
pertemuan?

pun
apatah takdir harus dikebiri?
apatah segerombolan wajah harus menangis
menyaksikan rintik hujan di singgah pada tengah hari?

syahdan, terbujuk nurani tuk sematkan angka
daun-daun tak gugur dari meja kebodohan
setiap kali mereka bertandang menatap pagi

"selamat berjuang"
begitu yang terdengar dari segerombolan wajah
meski berbisik mengangkat tiang napas yang hampir habis,
tersengal

Jakarta, 2012

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar