بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Aku datang dengan kata sebab dia menyuruhku datang. Tetapi aku belum mampu menjawab ketika ditanya untuk apa aku datang"
--- & ---
~Aku sedang menjemput puisi yang masih setia menungguku di sana. Bersabarlah sayang!~

Puisi Terapung

Ditulis oleh Zuwaily


Puisi - Ketahuilah bahwa aku seorang diri untuk menjadi fakir dalam mimpi. Tetapi kerap aku jatuh sombong untuk menyatakan diri sebagai orang yang kaya. Dalam mimpi dan itulah yang terjadi di tengah malam tadi.

Setiap waktu, di langkah yang berjalan, di napas yang bernapas, dan di bibir yang bergumam, aku pernah menjadi apa yang kuinginkan meski tak sesuai dengan apa yang Diinginkan. Aku pernah memaksakan apa yang diinginkan meski tak sesuai dengan apa yang kuinginkan. Anda pasti tahu dan inilah mimpi!!!

aku jatuh
dan terjatuh

duh sial!
andai kakiku kaurajam di kuburan

Dalam kumpulan puisi, aku pernah mengutarakan bait-bait yang jatuh di atas mimpi dan asaku. Aku pernah merangkai beribu kata dan syair yang meluluhlantakkan tanah, jungkir balik.

puisi itu kusebut teman
kadang kala musuh

puisi itu kusebut cinta
kadang kala benci

puisi itu kusebut nasihat
kadang kala ancaman

puisi-puisiku
bergerak sendiri tak menentu
sebab aku bisu
pun tuli

Jakarta, Maret 2014

Anda, sebagai penikmat kopi di siang hari sebelum rehat, pernah bermimpi bertemu puisi? Anda, sebagai penikmat bulan di malam hari sebelum mimpi, pernah bertemu puisi dalam nyata? Sementara aku masih terkatung-katung menentukan nasib puisiku.

Sebab itu, kunamakan saja mereka sebagai puisi yang terapung. Menggembala dalam nirwana laut yang mengudara di samudera ombak cinta sang dhoif, Zuwaily.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar