بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Aku datang dengan kata sebab dia menyuruhku datang. Tetapi aku belum mampu menjawab ketika ditanya untuk apa aku datang"
--- & ---
~Aku sedang menjemput puisi yang masih setia menungguku di sana. Bersabarlah sayang!~

Puisi - Pagi Terenyuh, Sang Surya Tersentuh

Ditulis oleh Zuwaily


Puisi - Sebelum melangkah keluar rumah, gemericik suara hujan tetap terngiang dari kemarin malam, sejak dini. Tumpah, basah, dan dingin. Meski terenyuh, sakit berkeping, pening berlarut, daun-daun tetap menyapa anak-anak yang berlari dalam kubangan dan gumpalan titik-titik air.

Pagi mencari makan untuk dibaca,
bukan untuk dilawan


Suatu saat setelah reda dibanjiri, puisi pagi menjadi mimpi di pundak mereka.

Prolog:

Anak-anak berlari dengan seragam merah putih yang dibalut di badan mereka untuk menutupi masa-masa kelam yang baru saja tertinggal. Beberapa senti di atas mata kaki, genangan air mengalir tak peduli. Apatah mereka mengeluh?

Bibir, mata, dan wajah di depan mata senja adalah bukti; jika alam adalah sahabat mereka. Bukan musuh yang harus dibantah maupun disumpahserapahi dengan ucapan iblis yang berdalih suci.

Langkah sejak keluar rumah... dalam hati... sanubari... pada sang surya yang bersembunyi

Jakarta, 100215

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar