بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Aku datang dengan kata sebab dia menyuruhku datang. Tetapi aku belum mampu menjawab ketika ditanya untuk apa aku datang"
--- & ---
~Aku sedang menjemput puisi yang masih setia menungguku di sana. Bersabarlah sayang!~

Puisi Santun Berasap

Ditulis oleh Zuwaily


Bismillah... berikut Puisi "Santun Berasap":

santunku kepada asap yang mengepul
melalui celah udara di hadapan wajah
begitu setianya aku
menemani malam-malam mendekati takbir
meski tak hendak beranjak
menyeruput secangkir pekat yang tak tersisa
ampasnya

aku seperti bujang burung yang berkoar-koar
pagi membangunkan mata
pagi pula menidurkan mata
dan tak pernah urung ketika langkah-langkah sudah asik berleha
di rumah makan
di kantor-kantor yang mengajarkan huruf a

aku masih menyantunimu
melalui celah udara di atas kepala
padahal ketika senja 'kan tiba,
aku tergeletak di sembarang dipan
yang berasap... bertuliskan nama Izroil di dada

santunku padamu
setiaku padamu,
ternyata
tak seperti as-Shidiq menemani Nabi

lalu aku tak segera melangkah
dan segera bilang:
"kuucapkan santun yang tak kumengerti
pada asap-asap di setiap sudut kamar"

Jakarta, 2013

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar