بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Aku datang dengan kata sebab dia menyuruhku datang. Tetapi aku belum mampu menjawab ketika ditanya untuk apa aku datang"
--- & ---
~Aku sedang menjemput puisi yang masih setia menungguku di sana. Bersabarlah sayang!~

Puisi - Pagi Terenyuh, Sang Surya Tersentuh

Ditulis oleh Zuwaily

Puisi - Sebelum melangkah keluar rumah, gemericik suara hujan tetap terngiang dari kemarin malam, sejak dini. Tumpah, basah, dan dingin. Meski terenyuh, sakit berkeping, pening berlarut, daun-daun tetap menyapa anak-anak yang berlari dalam kubangan dan gumpalan titik-titik air.

Pagi mencari makan untuk dibaca,
bukan untuk dilawan


Suatu saat setelah reda dibanjiri, puisi pagi menjadi mimpi di pundak mereka.

Prolog:

Anak-anak berlari dengan seragam merah putih yang dibalut di badan mereka untuk menutupi masa-masa kelam yang baru saja tertinggal. Beberapa senti di atas mata kaki, genangan air mengalir tak peduli. Apatah mereka mengeluh?

Bibir, mata, dan wajah di depan mata senja adalah bukti; jika alam adalah sahabat mereka. Bukan musuh yang harus dibantah maupun disumpahserapahi dengan ucapan iblis yang berdalih suci.

Langkah sejak keluar rumah... dalam hati... sanubari... pada sang surya yang bersembunyi

Jakarta, 100215
SelengkapnyaPuisi - Pagi Terenyuh, Sang Surya Tersentuh

Puisi - Terpisah (Jarak Satu-Satu)

Ditulis oleh Zuwaily

Bismillahirrohmanirrohim...

Duh, tiba sudah menjelang gemericik air turun di setiap detak kamarku. Basah beruah di pelantara mimpi-mimpi, dan aku terjaga. Sudah dini hari sejak jam-jam itu berdetak, bergermerincing membunyikan sebuah tanda. Ah, aku tak mudah bercakap kepada handai taulan yang mengatakan, 'puisi-puisi terpisah'.

Aku rindu pada suaramu... aku rindu pada janjimu... aku rindu pada pelukmu... dan aku rindu pada tatapmu yang menyengajakan untuk mengatakan sebuah kata "cinta".

Membaca adalah tugasku di setiap waktu,
tanpa sebab dan musabab
Menulis adalah mimpiku di setiap gerak,
tanpa sebab dan muasal

Aku meringkuk dan terpengkur,
diam sejenak mencari sejarum dalam timbunan jerami kusut

Adalah hidup pada cemas dan rupa dusta

Aku membaca dan menulis dalam kisah
asmara, dikata sengsara
cinta, dikata merana

Adalah aku pada hidup serupa mimpi

Kini, aku bukan seperti aku yang dua puluh sembilan tahun merajarela mencari sebutir beras untuk ditanak menjadi nasi yang satu. Aku hanya sembilu dalam peluh perjalanan yang tak kunjung usai sebelum sampai di tanah.

Sebenarnya! Sesungguhnya aku malu untuk berkata lalu berkaca pada wajah di hadapan. Aku apakah aku? Atau aku adalah kau?

Kemudian... catatan kecil ini hanya menjadi sebuah kisah maupun cerita dalam paruh waktu yang masih sangat dini untuk mengubahnya menjadi tua dan pasi, apalagi pejantan.

Jakarta, 090215
SelengkapnyaPuisi - Terpisah (Jarak Satu-Satu)

Puisi - Kisah dalam Puisi

Ditulis oleh Zuwaily

Puisi - Kisah dalam Puisi - Aku membaca segelintir kisah yang nampak malu-malu timbul di permukaan. Ia laksana bidadari yang enggan mengeluarkan suara merdu ataupun gemericik gelang emas yang dikenakannya di kaki.

Ia sengaja kusebut kisah sebagai perjalanan di dalam puisi yang masih saja merangkak untuk belajar lebih dewasa. Ia sengaja kubuatkan satu petak lahan agar ia dapat berlari, menangis, tertawa, yang ditemani oleh secangkir minuman berpekat.

puisi itu jatuh
dalam kisah

puisi itu merunduk
dalam pilu

sengaja kusebut kisah memilu
merindu
mendekap
dan mengecup angan dalam zaman

Jakarta, 2014

Sepertinya aku sengaja membuatnya begitu, menjadi kisah yang belum berarti untuk menjadi hidup. Memokokkan yang dipokokkan dalam sebuah kalimat-kalimat berantai mengakhiri zaman.

Zuwaily, dalam kisah yang merentas di jiwa yang diam-diam memikirkannya.
SelengkapnyaPuisi - Kisah dalam Puisi

Puisi Terapung

Ditulis oleh Zuwaily

Puisi - Ketahuilah bahwa aku seorang diri untuk menjadi fakir dalam mimpi. Tetapi kerap aku jatuh sombong untuk menyatakan diri sebagai orang yang kaya. Dalam mimpi dan itulah yang terjadi di tengah malam tadi.

Setiap waktu, di langkah yang berjalan, di napas yang bernapas, dan di bibir yang bergumam, aku pernah menjadi apa yang kuinginkan meski tak sesuai dengan apa yang Diinginkan. Aku pernah memaksakan apa yang diinginkan meski tak sesuai dengan apa yang kuinginkan. Anda pasti tahu dan inilah mimpi!!!

aku jatuh
dan terjatuh

duh sial!
andai kakiku kaurajam di kuburan

Dalam kumpulan puisi, aku pernah mengutarakan bait-bait yang jatuh di atas mimpi dan asaku. Aku pernah merangkai beribu kata dan syair yang meluluhlantakkan tanah, jungkir balik.

puisi itu kusebut teman
kadang kala musuh

puisi itu kusebut cinta
kadang kala benci

puisi itu kusebut nasihat
kadang kala ancaman

puisi-puisiku
bergerak sendiri tak menentu
sebab aku bisu
pun tuli

Jakarta, Maret 2014

Anda, sebagai penikmat kopi di siang hari sebelum rehat, pernah bermimpi bertemu puisi? Anda, sebagai penikmat bulan di malam hari sebelum mimpi, pernah bertemu puisi dalam nyata? Sementara aku masih terkatung-katung menentukan nasib puisiku.

Sebab itu, kunamakan saja mereka sebagai puisi yang terapung. Menggembala dalam nirwana laut yang mengudara di samudera ombak cinta sang dhoif, Zuwaily.
SelengkapnyaPuisi Terapung

Puisi Pagi - Syair Tak Berpenghuni

Ditulis oleh Zuwaily

Aku memulai di pagi ini dengan sebuah kalimat yang menyatakan tanya, "Mau jadi apa puisi-puisimu itu?" Lantas aku diam lalu mengambil sebuah alat komunikasi yang terhubung ke jarak masa.

'subuh aku terbangun
menorehkan kata di matamu

subuh aku terjaga
menyampaikan pesan untukmu

sudahkah bangkit?'

Puisi kerap menghantui langkah dan pikiran sementara aku masih gelisah sendiri. Ia sengaja mengajakku bermain dengan kata, sengaja menyeretku untuk bergumam dengan alam bawah sadarku, sengaja menuntunku membuat beribu bait, syair, dan kalimat yang terkadang aku sendiri masih rancu memberanikan hati untuk melamarnya. Ah, melamar! Kata yang menohokku.

Membaca dan membaca, berpikir dan berpikir sampai waktu berdetak tak sampai jua aku menyudahi kegelisahan tak henti.

puisi yang kubuat
kata yang kutulis
kalimat yang kucipta
tak ubahnya hanya bual dalam gelisahku

andai suaramu tak berwajah
aku sudah hampir selesai membaiatnya

Jakarta, Maret 2014

Inilah syair tak berpenghuni dari seorang bujang yang tak sampai hati untuk melepas bujangnya karena sang surga masih mengurung diri di dalam kamarnya.
SelengkapnyaPuisi Pagi - Syair Tak Berpenghuni